Advertisement

Jangan Biarkan Seorang Anak Menanggung Dosa Orang Dewasa

MAGETAN |Lawu TV – Bayi prematur ditemukan hidup di bawah pohon randu di sebuah kebun di Desa Sumbersawit, Kecamatan Sidorejo. Di saat yang sama, seorang siswi kelas X SMK harus mendapatkan perawatan medis setelah diduga melahirkan seorang diri.

Peristiwa ini bukan sekadar berita tentang bayi yang ditemukan di kebun.

Ini adalah alarm keras bagi kita semua.

Alarm bagi orang tua. Alarm bagi sekolah. Alarm bagi lingkungan. Alarm bagi pemerintah. Dan terutama alarm bagi siapa pun yang terlibat dalam lahirnya seorang anak ke dunia.

Jangan sampai seluruh perhatian hanya diarahkan kepada seorang ibu yang masih remaja, sementara pihak lain yang ikut bertanggung jawab justru luput dari perhatian.

Polisi memang masih melakukan penyelidikan. Belum ada tersangka yang ditetapkan dan berbagai dugaan masih harus dibuktikan. Karena itu, tidak boleh ada penghakiman sebelum fakta hukum terungkap.

Tetapi satu hal yang tidak membutuhkan penyelidikan panjang adalah kenyataan bahwa seorang bayi telah lahir dan membutuhkan tanggung jawab dari orang-orang dewasa di sekitarnya.

Anak itu tidak pernah meminta untuk dilahirkan.

Ia juga tidak pernah memilih siapa orang tuanya.

Maka jangan sampai seorang anak yang tidak berdosa justru menjadi pihak yang paling menderita akibat keputusan, ketakutan, kelalaian, atau ketidaksiapan orang dewasa.

Jika benar ada seorang laki-laki yang memiliki hubungan dengan ibu bayi tersebut, maka persoalannya tidak boleh berhenti pada pertanyaan siapa ayah biologisnya. Harus ada keberanian untuk melihat lebih jauh: di mana tanggung jawabnya?

Tanggung jawab bukan hanya soal hubungan biologis. Tanggung jawab juga berarti keberanian menghadapi konsekuensi, melindungi anak, memastikan keselamatan ibu dan bayi, serta menjalani proses hukum apabila memang terdapat unsur pelanggaran.

Kepada keluarga, jangan hanya berpikir tentang nama baik.

Nama baik keluarga tidak boleh dibayar dengan keselamatan seorang bayi.

Kepada lingkungan, jangan menjadikan kehamilan remaja sebagai bahan gunjingan yang membuat anak semakin takut mencari pertolongan.

Kepada sekolah, kejadian ini juga harus menjadi bahan evaluasi. Pendidikan tidak cukup hanya mengejar nilai akademik. Anak-anak juga membutuhkan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, relasi yang sehat, batasan diri, serta tempat yang aman untuk meminta pertolongan ketika menghadapi masalah.

Dan kepada pemerintah serta seluruh pemangku kepentingan, kasus ini semestinya menjadi bahan untuk memperkuat sistem perlindungan anak dan pendampingan remaja.

Sebab seorang anak yang terjebak dalam persoalan seperti ini tidak selalu membutuhkan ceramah panjang.

Kadang mereka hanya membutuhkan satu orang dewasa yang mau mendengarkan tanpa langsung menghakimi.

Namun yang paling penting, jangan pula menganggap persoalan ini selesai hanya karena bayi sudah berada di rumah sakit.

Setelah kondisi medis membaik, pertanyaan yang lebih besar justru menunggu: siapa yang akan bertanggung jawab atas masa depan anak tersebut?

Siapa yang akan memastikan haknya terpenuhi?

Siapa yang akan menjamin ia tumbuh dengan layak?

Siapa yang akan mendampingi ibunya?

Dan siapa yang akan memastikan kejadian serupa tidak kembali terjadi?

Hukum harus berjalan.

Fakta harus dibuka.

Jika ada pihak yang terbukti melakukan pelanggaran, pertanggungjawaban harus diberikan sesuai hukum. Tetapi di atas semua itu, jangan sampai proses hukum dan stigma sosial membuat kita lupa bahwa ada dua manusia yang saat ini membutuhkan perlindungan: seorang bayi yang baru lahir dan seorang remaja yang sedang menghadapi situasi yang sangat berat.

Kasus Sumbersawit seharusnya tidak berhenti menjadi perbincangan di warung, media sosial, atau pemberitaan sehari dua hari.

Jadikan ini momentum untuk bercermin.

Sebab ketika seorang bayi ditemukan sendirian di kebun, pertanyaannya bukan hanya “Siapa yang meninggalkannya?”

Tetapi juga:

“Mengapa tidak ada satu pun orang dewasa yang merasa cukup aman untuk membuat seorang anak berani meminta pertolongan?”

Dan yang paling penting, jangan biarkan seorang anak menanggung akibat dari kesalahan yang dilakukan orang dewasa.

Penulis : Pahlawan Bertopeng

About The Author