Kuala Lumpur |Lawu TV – Kampus UNESA 5 melalui Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL), Malaysia. Kegiatan ini mengangkat tema “Internalisasi Nilai-Nilai Jati Diri Keindonesiaan dalam Pendidikan Multikultural melalui Pendekatan Kontekstual di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur Malaysia.”
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi dalam memperkuat kontribusi akademik kepada masyarakat, khususnya dalam konteks pendidikan Indonesia di luar negeri. SIKL menjadi ruang strategis untuk mengembangkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada aspek akademik, tetapi juga membangun kesadaran peserta didik terhadap identitas, nilai, budaya, dan karakter keindonesiaan di tengah lingkungan masyarakat yang multikultural.
Ketua Tim PKM, Prof. Dr. Sarmini, M.Hum., menjelaskan bahwa penguatan jati diri keindonesiaan melalui pendidikan memiliki keterkaitan erat dengan agenda pembangunan karakter bangsa. Menurutnya, pendidikan tidak semata-mata diarahkan untuk meningkatkan kompetensi akademik peserta didik, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam membentuk karakter, rasa kebangsaan, serta kecintaan terhadap Indonesia.
“Internalisasi nilai-nilai jati diri keindonesiaan dalam pendidikan menjadi bagian penting dari upaya membangun karakter bangsa. Pendidikan harus mampu membentuk peserta didik yang memahami sejarah pembentukan bangsanya, memiliki nilai-nilai patriotisme dan cinta Tanah Air, memiliki semangat bela negara, serta menjunjung tinggi budi pekerti,” jelas Prof. Dr. Sarmini, M.Hum.
Lebih lanjut, Prof. Sarmini mengaitkan pelaksanaan kegiatan tersebut dengan Nawacita 8, yaitu melakukan revolusi karakter bangsa. Menurutnya, agenda tersebut menempatkan pendidikan kewarganegaraan sebagai salah satu instrumen penting dalam membangun karakter generasi muda Indonesia.
Dalam konteks tersebut, pendidikan kewarganegaraan tidak hanya dimaknai sebagai pembelajaran di dalam kelas, tetapi juga mencakup pengenalan sejarah pembentukan bangsa, penanaman nilai patriotisme dan cinta Tanah Air, penguatan semangat bela negara, serta pembentukan budi pekerti. Nilai-nilai tersebut perlu dihadirkan melalui pengalaman belajar yang dekat dengan kehidupan peserta didik.
“Revolusi karakter bangsa membutuhkan pendidikan yang mampu menghadirkan nilai-nilai kebangsaan secara nyata dalam kehidupan peserta didik. Karena itu, pendekatan kontekstual menjadi penting agar nilai keindonesiaan tidak hanya dipahami sebagai konsep, tetapi dapat dirasakan, dipraktikkan, dan menjadi bagian dari perilaku sehari-hari,” tambahnya.
Selain penguatan pendidikan kewarganegaraan, Prof. Sarmini juga menekankan pentingnya penataan kembali kurikulum pendidikan nasional agar mampu menjawab perkembangan zaman sekaligus tetap berakar pada nilai-nilai kebangsaan. Dalam konteks pendidikan multikultural, kurikulum perlu memberikan ruang bagi keberagaman pengalaman, latar belakang, dan lingkungan sosial peserta didik.
“Penataan kurikulum perlu dilakukan dengan tetap memberikan ruang terhadap keragaman. Kita perlu mengevaluasi model penyeragaman dalam sistem pendidikan nasional sehingga pendidikan dapat lebih kontekstual dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik serta lingkungan sosialnya,” ungkapnya.
Menurutnya, pendidikan Indonesia di luar negeri memiliki karakteristik tersendiri. Peserta didik di SIKL berada dalam lingkungan multikultural yang memungkinkan mereka berinteraksi dengan masyarakat dari berbagai latar belakang. Kondisi tersebut justru dapat menjadi ruang pembelajaran untuk memperkuat identitas keindonesiaan sekaligus mengembangkan sikap terbuka terhadap keberagaman.
Melalui pendekatan kontekstual, kegiatan PKM UNESA 5 mendorong peserta didik untuk menghubungkan nilai-nilai keindonesiaan dengan pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari. Nilai gotong royong, toleransi, persatuan, tanggung jawab, cinta Tanah Air, penghargaan terhadap keberagaman, dan budi pekerti dihadirkan dalam proses pembelajaran yang partisipatif.
Prof. Sarmini juga menegaskan bahwa agenda revolusi karakter bangsa tidak dapat dilepaskan dari upaya memperluas akses dan meningkatkan kualitas pendidikan. Dalam Nawacita 8, pembangunan pendidikan juga mencakup jaminan kehidupan yang memadai bagi para guru, khususnya di daerah terpencil, serta memperbesar akses warga miskin untuk mendapatkan pendidikan.
“Revolusi karakter bangsa harus berjalan bersama dengan pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan. Guru perlu mendapatkan dukungan yang memadai agar dapat menjalankan perannya secara optimal, sementara akses pendidikan juga harus semakin terbuka bagi seluruh warga negara, termasuk mereka yang berada dalam kondisi ekonomi maupun geografis yang terbatas,” jelas Prof. Sarmini.
Ia menambahkan bahwa prinsip pemerataan pendidikan tersebut juga relevan dalam melihat keberadaan sekolah Indonesia di luar negeri. SIKL tidak hanya berfungsi sebagai institusi pendidikan, tetapi juga menjadi salah satu ruang penting dalam menjaga keberlanjutan pendidikan dan identitas keindonesiaan bagi anak-anak Indonesia yang berada di Malaysia.
Pendidikan multikultural menjadi salah satu aspek penting dalam kegiatan PKM tersebut. Peserta didik di SIKL hidup dalam lingkungan sosial yang mempertemukan berbagai latar belakang budaya, bahasa, dan pengalaman. Kondisi tersebut menjadi konteks pembelajaran yang relevan untuk menanamkan nilai-nilai keindonesiaan sekaligus membangun kemampuan peserta didik dalam menghargai perbedaan.
Kegiatan PKM ini juga menjadi bentuk kontribusi UNESA dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Melalui penguatan karakter dan identitas kebangsaan, pendidikan diharapkan mampu membentuk generasi yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga memiliki karakter, wawasan kebangsaan, kemampuan beradaptasi, serta sikap menghargai keberagaman.
Tim PKM UNESA 5 terdiri atas Prof. Dr. Sarmini, M.Hum.; Dr. Anna Noordia, S.TP., M.Kes.; Dr. Gading Gamaputra, S.AP., MPA; Achmad Rizanul Wahyudi, S.Pd., M.Pd.; Dr. Khusnul Khotimah, S.Pd., M.Pd.; Dr. Mochamad Kamil Budiarto, M.Pd.; Syahid Akhmad Faisol, S.H., M.H.; Suyanti Fatma Umayfa, S.S., M.A.; Bayu Rama Laksono, SE., M.Ak.; dan Dr. Nurul Khotimah, S.Pd., M.Pd.
Kehadiran tim lintas bidang tersebut menunjukkan pendekatan multidisipliner dalam pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat. Keberagaman latar belakang keilmuan anggota tim menjadi modal dalam mengembangkan kegiatan yang memadukan perspektif pendidikan, sosial, budaya, kesehatan, administrasi, hukum, bahasa, hingga pengelolaan keuangan.
Melalui kegiatan ini, UNESA menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam penguatan pendidikan yang berakar pada nilai-nilai kebangsaan sekaligus responsif terhadap dinamika masyarakat global. Internalisasi jati diri keindonesiaan melalui pendidikan multikultural diharapkan dapat membantu peserta didik SIKL tumbuh sebagai generasi Indonesia yang memiliki identitas kebangsaan, terbuka terhadap keberagaman, dan mampu berinteraksi secara positif dalam lingkungan internasional.
Kegiatan PKM di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan pengabdian, tetapi dapat menjadi bagian dari pengembangan praktik pendidikan yang kontekstual dan berkelanjutan. Dengan demikian, nilai-nilai keindonesiaan dapat terus hidup dalam keseharian peserta didik, sejalan dengan semangat revolusi karakter bangsa dan cita-cita membangun pendidikan Indonesia yang inklusif, berkarakter, dan berkeadilan.(goes)

















