MAGETAN, LAWUTV.COM – Sebanyak 96 wartawan di Kabupaten Magetan menghadiri kegiatan ngopi bareng bersama pimpinan DPRD Kabupaten Magetan, Selasa (6/10/2026).
Kegiatan yang digelar sebagai ajang silaturahmi tersebut disebut menjadi ruang komunikasi antara pimpinan DPRD dengan insan pers. Bahkan, pimpinan DPRD Magetan menyatakan membuka diri terhadap kritik dan masukan dari wartawan maupun masyarakat.
Ketua DPRD Magetan Riyin Nur Asiyah mengatakan, lembaga legislatif terus berupaya melakukan perbaikan dalam menjalankan tugas sekaligus meningkatkan komunikasi dengan masyarakat melalui media.
“DPRD ingin menjadi lebih baik lagi ke depannya,” ujar Riyin.
Wakil Ketua DPRD Magetan Suyatno juga mengapresiasi pertemuan tersebut. Ia mengaku setelah 27 tahun menjadi anggota DPRD, baru kali ini dapat duduk bersama dan ngopi dengan awak media.
“27 tahun baru bisa ngopi bareng awak media. Mohon doa semoga diberikan kesehatan dan keselamatan hingga akhir masa jabatan,” katanya.
Menurut Suyatno, menjadi anggota DPRD merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat. Karena itu, komunikasi dan kerja sama dengan berbagai elemen masyarakat, termasuk pers, dinilai penting dalam menjalankan tugas sebagai wakil rakyat.
“Menjadi anggota DPRD niatnya ibadah, memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat. Kita membangun kerja sama yang baik untuk masa mendatang,” tuturnya.
Sementara itu, Puthut menegaskan bahwa DPRD Magetan tidak menutup diri terhadap kritik yang disampaikan media maupun masyarakat.
“Kami tidak menutup diri dan tidak anti kritik. Ke depan semoga terjalin kerja sama yang baik,” ujarnya.
Namun, Ruang Dialog Belum Terasa
Meski mengusung tema silaturahmi dan membuka ruang kritik, pelaksanaan kegiatan tersebut meninggalkan catatan tersendiri di kalangan awak media.
Forum yang dihadiri puluhan wartawan itu dinilai belum sepenuhnya menjadi ruang dialog dua arah. Interaksi antara pimpinan DPRD dengan wartawan masih terasa terbatas dan lebih banyak berlangsung dalam bentuk sambutan serta perkenalan.
Sejumlah wartawan yang hadir berharap pertemuan semacam itu tidak berhenti pada kegiatan seremonial atau sekadar saling mengenal antara pimpinan DPRD dan insan pers.
Sebab, jika benar DPRD membuka pintu kritik, maka forum semestinya memberikan ruang yang cukup bagi wartawan untuk menyampaikan pertanyaan, kritik, evaluasi maupun persoalan publik yang selama ini menjadi perhatian masyarakat.
Terlebih, pers memiliki fungsi kontrol sosial. Kritik yang disampaikan wartawan bukan semata-mata untuk mencari kesalahan lembaga legislatif, melainkan menjadi bagian dari mekanisme pengawasan publik.
Karena itu, kegiatan ngopi bareng tersebut akan lebih bermakna apabila dikembangkan menjadi diskusi terbuka. Wartawan dapat menyampaikan persoalan yang berkembang di tengah masyarakat, sementara DPRD dapat memberikan penjelasan sekaligus menyampaikan langkah konkret atas berbagai persoalan tersebut.
Jangan Sampai Hanya Menjadi Agenda Seremonial
Pertemuan antara DPRD dan 96 wartawan tentu menjadi langkah positif untuk membangun komunikasi. Namun, komunikasi yang sehat tidak cukup hanya dengan bertemu dan memperkenalkan diri.
Yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah pertemuan tersebut.
Apakah kritik wartawan benar-benar didengar? Apakah masukan masyarakat melalui media menjadi bahan evaluasi? Dan apakah DPRD bersedia membuka ruang dialog yang lebih luas ketika muncul persoalan yang menyangkut kepentingan publik?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting agar hubungan antara DPRD dan media tidak berhenti pada seremoni.
Jika DPRD benar-benar ingin menjadikan media sebagai mitra dalam menjalankan fungsi kontrol sosial, maka ruang pertemuan ke depan perlu dibuat lebih interaktif, terbuka dan substantif.
Ngopi bersama seharusnya bukan sekadar duduk bersama. Tetapi menjadi ruang untuk berbicara, bertanya, mengkritik, mendengar dan mencari solusi bersama untuk kepentingan masyarakat Magetan.
Dengan demikian, pertemuan antara DPRD dan insan pers tidak hanya meninggalkan kesan telah saling mengenal, tetapi juga menghasilkan gagasan dan langkah nyata yang dapat dirasakan masyarakat.(goes)




















