MAGETAN |Lawu TV – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Magetan menerapkan metode pengaspalan slurry seal di Jalan Srikandi, lingkungan RT 7, Kelurahan Sukowinangun, Kabupaten Magetan. Metode ini diharapkan menjadi alternatif pemeliharaan jalan yang lebih praktis, efisien, dan mampu meningkatkan kenyamanan serta keselamatan pengguna jalan.
Kepala Bidang Bina Marga PUPR Kabupaten Magetan, Haryanto, menjelaskan bahwa teknologi slurry seal sebenarnya bukan hal baru dalam dunia pekerjaan jalan. Metode tersebut telah digunakan dalam pekerjaan proyek selama hampir lima tahun. Namun, kali ini PUPR Magetan melaksanakannya secara swakelola di Jalan Srikandi.
Menurut Haryanto, salah satu keunggulan metode slurry seal adalah proses pengerjaannya yang relatif cepat. Setelah sekitar empat jam sejak pengaplikasian, jalan sudah dapat dilalui kendaraan sehingga aktivitas masyarakat tidak perlu terganggu terlalu lama.
“Metode ini lebih praktis dan cepat dalam pengerjaannya. Setelah kurang lebih empat jam, jalan sudah bisa dilalui kendaraan. Harapannya, ke depan metode seperti ini dapat terus dikembangkan untuk penanganan jalan di Kabupaten Magetan,” ujarnya.

Ia mengakui, dari sisi biaya, slurry seal memang relatif lebih tinggi dibandingkan metode pengaspalan konvensional menggunakan aspal dalam drum. Meski demikian, efisiensi waktu pengerjaan dan potensi manfaatnya dalam pemeliharaan jalan menjadi pertimbangan tersendiri.
PUPR Magetan berharap ke depan tersedia peralatan dengan kapasitas lebih besar agar penerapan metode tersebut dapat menjangkau ruas jalan yang lebih luas, termasuk jalan-jalan di wilayah perdesaan.
Sementara itu, Ketua RT 7, Hendro, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Dinas PUPR Kabupaten Magetan atas pelayanan dan penanganan jalan di lingkungan tempat tinggalnya. Ia berharap hasil pekerjaan tersebut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat serta mendukung kelancaran aktivitas warga.
Anggota DPRD Kabupaten Magetan, Ajis, juga berharap metode slurry seal dapat dikembangkan di berbagai wilayah. Menurutnya, pemeliharaan jalan perlu memperhatikan bukan hanya kualitas permukaan, tetapi juga faktor keselamatan pengguna jalan.
Ia menilai, pada pengaspalan konvensional tertentu, penaburan pasir setelah pengerjaan dapat menimbulkan risiko licin apabila material tersebut masih berserakan di permukaan jalan. Karena itu, metode dan hasil akhir pengaspalan perlu diperhatikan agar tidak membahayakan pengendara.
“Harapannya, metode ini bisa dikembangkan di desa-desa dan ruas jalan lainnya di Magetan. Selain memperhatikan aspek lingkungan, yang tidak kalah penting adalah meningkatkan keselamatan pengguna jalan dan mengurangi risiko kecelakaan,” ungkap Ajis.
Penerapan slurry seal di Jalan Srikandi menjadi salah satu langkah PUPR Magetan dalam mencoba alternatif pemeliharaan infrastruktur jalan. Evaluasi terhadap kualitas hasil pekerjaan, daya tahan permukaan, biaya, dan manfaat jangka panjang tetap diperlukan sebagai dasar pengembangan metode tersebut di wilayah lain.
Dengan pemilihan metode yang sesuai kondisi jalan dan pengawasan pekerjaan yang baik, pemeliharaan infrastruktur diharapkan semakin efektif, berkualitas, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Kabupaten Magetan.(goes)



















