Advertisement

MAN 2 Magetan Gaungkan Kampanye Anti-Bullying Pasif, Wujudkan Lingkungan Pendidikan yang Aman dan Nyaman

MAGETAN(LAWUTV.COM) – Upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan bebas perundungan terus digencarkan oleh MAN 2 Magetan. Melalui edukasi bertajuk “Apakah Kita Melakukan Bullying Pasif?”, sekolah ini mengajak seluruh siswa, guru, dan warga sekolah untuk lebih peduli terhadap berbagai bentuk perundungan yang sering kali terjadi tanpa disadari.(21/7/26)

Selama ini masyarakat cenderung menganggap bullying hanya berupa tindakan fisik atau kata-kata kasar.
Padahal, terdapat bentuk perundungan lain yang tidak kalah berbahaya, yaitu bullying pasif. Bentuk perundungan ini terjadi melalui pengabaian, pengucilan, menjauhkan diri dari seseorang, hingga membuat teman merasa tidak diterima dalam lingkungan sosialnya.
Dalam materi yang disosialisasikan MAN 2 Magetan, beberapa contoh bullying pasif antara lain menjauh saat teman mendekat, membuat seseorang merasa tidak diinginkan di kelas, berbisik atau tertawa ketika seseorang melintas, serta mengabaikan keberadaan teman dalam kegiatan kelompok.
Meskipun tidak meninggalkan luka fisik, dampak bullying pasif sangat serius. Korban dapat mengalami penurunan rasa percaya diri, gangguan kesehatan mental seperti stres, kecemasan, hingga depresi. Selain itu, kondisi tersebut juga dapat menurunkan semangat belajar dan partisipasi sosial siswa di lingkungan sekolah.
Kepala MAN 2 Magetan menegaskan bahwa sekolah harus menjadi tempat yang aman bagi seluruh peserta didik untuk tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu, pendidikan karakter, penguatan nilai toleransi, empati, dan saling menghargai menjadi bagian penting dalam membangun budaya sekolah yang positif.
“Bullying dalam bentuk apa pun tidak boleh mendapat ruang di dunia pendidikan. Kepedulian terhadap sesama teman harus ditanamkan sejak dini agar tercipta lingkungan belajar yang sehat dan menyenangkan,” ujar salah satu guru pembina.
Gerakan anti-bullying yang dilakukan MAN 2 Magetan sejalan dengan komitmen pemerintah dalam menciptakan satuan pendidikan ramah anak. Melalui edukasi yang berkelanjutan, diharapkan seluruh siswa mampu mengenali bentuk-bentuk perundungan, berani mencegahnya, serta menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing.
Masyarakat Magetan pun diharapkan ikut berperan aktif mendukung gerakan ini. Sekolah, keluarga, dan lingkungan sosial harus bersinergi untuk membangun budaya saling menghormati dan menghargai perbedaan.
Dengan kesadaran bersama, Kabupaten Magetan diharapkan dapat menjadi daerah yang bebas bullying di dunia pendidikan, sehingga setiap anak dapat belajar, berprestasi, dan meraih cita-citanya tanpa rasa takut maupun tekanan dari lingkungan sekitar.(Goes)

About The Author