Advertisement

Cetak Pemimpin Muda Inklusif, Tim PKM Internasional UNESA Gelar Pengabdian di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur

KUALA LUMPUR, MALAYSIA | Lawu TV – Universitas Negeri Surabaya (UNESA) melalui Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Internasional menggelar kegiatan pengabdian di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL), Malaysia, pada 14 September 2026. Kegiatan yang melibatkan 50 siswa ini menjadi bentuk kontribusi UNESA dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia di luar negeri, khususnya dalam pengembangan kepemimpinan, pembentukan karakter, serta penciptaan lingkungan sekolah yang aman dan inklusif.

Program pengabdian tersebut mengusung dua fokus utama, yakni pengembangan kepemimpinan siswa melalui pendekatan STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) dan penguatan tata kelola sekolah yang aman serta suportif untuk mencegah perundungan.

SIKL memiliki latar belakang siswa yang beragam, mulai dari anak-anak staf diplomatik hingga anak Pekerja Migran Indonesia (PMI). Keberagaman ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi sekolah untuk menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada akademik, tetapi juga memperkuat karakter, kepemimpinan, kemampuan beradaptasi, serta penghargaan terhadap perbedaan.

Pelatihan Kepemimpinan dengan Pendekatan STEAM

Program pertama bertajuk “STEAM-Inclusive Leadership Camp: Kolaborasi Lintas Keilmuan untuk Mencetak Pemimpin Masa Depan yang Adaptif dan Inklusif”. Program ini dipimpin oleh Galih Wahyu Pradana, S.A.P., M.Si., dan didanai melalui skema PKM Non-APBN UNESA Internasional.

Kegiatan tersebut melibatkan dosen dari berbagai bidang keilmuan, yaitu Galih Wahyu Pradana, S.A.P., M.Si. sebagai ketua dari bidang Ilmu Administrasi Negara; Dr. Pradnyo Wijayanti, M.Pd. dari Pendidikan Matematika; Sri Usodoningtyas, S.Pd., M.Pd. dari Pendidikan Tata Rias; Delia Indrawati, S.Pd., M.Pd. dari Pendidikan Guru Sekolah Dasar; serta Achmad Rizanul Wahyudi, S.Pd., M.Pd. dari Pendidikan Kepelatihan.

Berdasarkan temuan di lapangan, pengambilan keputusan dalam organisasi siswa masih kerap dilakukan tanpa dukungan data yang memadai. Selain itu, pelatihan kepemimpinan masih banyak mengandalkan metode ceramah sehingga belum sepenuhnya memberikan pengalaman praktis kepada siswa.

Untuk menjawab tantangan tersebut, tim menghadirkan serangkaian kegiatan berbasis praktik. Para siswa diajak mengumpulkan dan menganalisis data dari lingkungan sekolah sebagai dasar penyusunan program kerja organisasi. Mereka juga memperoleh pelatihan komunikasi publik, konseling kesehatan mental, serta mengikuti simulasi luar ruang yang memadukan aktivitas fisik, kerja sama tim, dan seni.

Ketua tim, Galih Wahyu Pradana, menjelaskan bahwa pendekatan STEAM diharapkan mampu membentuk pemimpin muda yang tidak hanya memiliki kemampuan berorganisasi, tetapi juga mampu mengambil keputusan berdasarkan data dan memiliki kepedulian sosial.

“Melalui pendekatan STEAM, kami ingin mendorong pengurus organisasi siswa di SIKL agar tidak hanya mengandalkan pendapat dalam mengambil keputusan, tetapi juga mampu menggunakan data sebagai dasar. Pada saat yang sama, siswa juga belajar untuk lebih peduli terhadap lingkungan sosial dan menghargai perbedaan,” jelas Galih.

Sebagai luaran program, tim menyusun modul digital berjudul “Pemimpin Inklusif dengan Logika STEAM”. Program ini juga menargetkan publikasi pada jurnal nasional terakreditasi SINTA, perolehan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), serta penyusunan rekomendasi kebijakan kepada Kementerian Luar Negeri Republik

Indonesia.

Perkuat Tata Kelola Sekolah yang Aman dan Suportif

Selain pengembangan kepemimpinan, Tim PKM Internasional UNESA juga melaksanakan program kedua bertajuk “Safe and Supportive School Governance pada SIKL: Penguatan Tata Kelola dan Mitigasi Risiko Sosial untuk Pencegahan Perundungan dan Perlindungan Anak”. Program ini dipimpin oleh Dr. Indra Devian Lumban Gaol, S.AP., M.AP.

Program tersebut melibatkan dosen lintas bidang keilmuan, meliputi Administrasi Publik, Sosiologi, Gizi Olahraga, dan Komunikasi. Fokus kegiatannya adalah memperkuat tata kelola sekolah agar mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendukung kesejahteraan siswa.

Sejumlah materi diberikan, antara lain pemetaan risiko sosial, edukasi pencegahan perundungan dan cyberbullying, keselamatan digital, serta penguatan kesejahteraan siswa (student wellbeing).

Pelaksanaan program dilakukan melalui seminar dan lokakarya internasional (international seminar-workshop), pembelajaran berbasis kasus (case-based learning), diskusi partisipatif, serta simulasi praktik langsung (hands-on simulation).

Dalam kegiatan ini, siswa, guru, pendamping sebaya (peer supporter), wali kelas, dan tenaga kependidikan dilibatkan untuk mempraktikkan tahapan identifikasi risiko, pencegahan, pelaporan, penanganan, perlindungan, hingga pemantauan kasus. Pendekatan partisipatif tersebut diharapkan membuat seluruh unsur sekolah memahami peran dan tanggung jawab masing-masing dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman.

Dr. Indra Devian Lumban Gaol menegaskan bahwa upaya pencegahan perundungan harus didukung oleh sistem tata kelola yang jelas dan mudah diakses seluruh warga sekolah.

“Sekolah yang aman tidak cukup dibangun melalui imbauan atau edukasi saja. Karena itu, kami memperkuat tata kelola sekolah, mulai dari memetakan risiko sosial, mencegah perundungan dan cyberbullying, hingga menyiapkan mekanisme pelaporan dan respons yang jelas, aman, dan mudah diakses. Siswa, guru, wali kelas, dan pihak sekolah kami libatkan langsung sejak identifikasi kebutuhan sampai penyusunan modul,” ujar Dr. Indra.

Hasil kegiatan dirangkum dalam modul Safe and Supportive School Governance yang disusun bersama siswa dan guru. Keberhasilan program dievaluasi melalui pre-test dan post-test, dengan target peningkatan pemahaman peserta sebesar 25 persen. Selain itu, tim menargetkan publikasi artikel ilmiah dan prosiding internasional sebagai bagian dari luaran akademik.

Kolaborasi untuk Keberlanjutan Program

Kedua program pengabdian ini menerapkan pendekatan partisipatif yang menempatkan sekolah dan peserta sebagai bagian penting dalam proses perencanaan hingga pelaksanaan kegiatan. Program kepemimpinan menggunakan pendekatan Community-Based Participatory Research and Devotion (CBP-RD), sedangkan program tata kelola sekolah menerapkan pendekatan co-creation bersama mitra.

Pelaksanaan kegiatan mendapat dukungan dari manajemen Sekolah Indonesia Kuala Lumpur serta Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur. Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan lembaga pendidikan Indonesia di luar negeri.

Melalui penggabungan pendekatan STEAM, pengembangan kepemimpinan, serta penguatan tata kelola sekolah yang aman dan suportif, UNESA berupaya memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kualitas generasi muda Indonesia di luar negeri.

Program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan keterampilan siswa dalam memimpin dan mengambil keputusan, tetapi juga menumbuhkan sikap inklusif, kepedulian sosial, serta keberanian untuk mencegah perundungan. Dengan demikian, Sekolah Indonesia Kuala Lumpur diharapkan semakin mampu menjadi lingkungan pendidikan yang aman, adaptif, dan mendukung perkembangan seluruh siswa tanpa membedakan latar belakang mereka.(goes)

About The Author