MAGETAN |Lawu TV – Upaya menjaga dan melestarikan bahasa Jawa di tengah semakin kuatnya penggunaan bahasa Indonesia di kalangan generasi muda terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Magetan. Salah satunya melalui Lomba Panatacara yang digelar di Pendopo Surya Graha Kabupaten Magetan, dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Magetan.
Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga Kabupaten Magetan, Suhardi dan diikuti 42 peserta tingkat SMP di bawah naungan Dikpora Kabupaten Magetan.
Lomba Panatacara ini menjadi kegiatan yang cukup penting karena untuk pertama kalinya digelar dalam rangkaian Hari Jadi Kabupaten Magetan. Selain menjadi ajang kompetisi, kegiatan tersebut diharapkan mampu menjadi sarana untuk menumbuhkan kembali kecintaan pelajar terhadap bahasa Jawa.
Suhardi menyampaikan, penggunaan bahasa Jawa di kalangan anak-anak saat ini semakin berkurang. Bahkan, dalam lingkungan keluarga, tidak sedikit anak yang sudah terbiasa menggunakan bahasa Indonesia ketika berkomunikasi dengan orang tua.( 8/10/26)
“Kita melihat sekarang anak-anak di rumah rata-rata sudah menggunakan bahasa Indonesia. Bahkan ketika berbicara dengan orang tuanya juga menggunakan bahasa Indonesia. Ini menjadi perhatian kita bersama agar bahasa Jawa tidak semakin luntur,” ujar Suhardi

Menurutnya, kondisi tersebut membutuhkan perhatian bersama, terutama dari lingkungan keluarga dan sekolah. Pelestarian bahasa Jawa tidak cukup hanya melalui kegiatan lomba, tetapi perlu disertai edukasi dan pembiasaan secara berkelanjutan.
Karena itu, Suhardi berharap ke depan dapat dirumuskan pola atau formula pembelajaran yang lebih mendalam di sekolah sehingga bahasa Jawa tidak sekadar menjadi mata pelajaran, tetapi juga menjadi bahasa yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa.
“Ke depan harus ada edukasi yang lebih mendalam. Harus ada formula yang dilakukan di sekolah-sekolah agar bahasa Jawa ini tidak luntur dan tetap dicintai anak-anak,” katanya.
Panatacara sendiri merupakan orang yang bertugas memandu atau membawakan suatu acara dengan menggunakan tata bahasa dan unggah-ungguh bahasa Jawa yang baik dan benar. Kemampuan tersebut masih sangat dibutuhkan dalam berbagai kegiatan masyarakat, khususnya di lingkungan pedesaan yang masih mempertahankan tradisi dan budaya Jawa.
Melalui lomba ini, para pelajar tidak hanya dituntut mampu berbicara bahasa Jawa, tetapi juga belajar memahami tata krama, unggah-ungguh, intonasi, serta kemampuan menyampaikan acara secara baik dan santun.
Suhardi berharap dari kegiatan tersebut dapat muncul bibit-bibit unggul yang memiliki kemampuan sebagai panatacara sekaligus menjadi generasi muda yang ikut menjaga keberlangsungan bahasa dan budaya Jawa.
“Semoga lomba ini bisa menemukan bibit-bibit unggul, bibit-bibit luar biasa dari anak-anak didik kita. Sehingga mereka sejak sekarang sudah memiliki modal untuk menjadi panatacara yang luar biasa,” harapnya.
Lomba Panatacara tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Magetan. Lebih dari itu, kegiatan ini diharapkan menjadi momentum untuk menghidupkan kembali penggunaan bahasa Jawa di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat.
Dengan demikian, bahasa Jawa tetap menjadi bagian dari identitas dan kekayaan budaya Magetan yang diwariskan kepada generasi berikutnya.(goes)



















