MAGETAN (lawutv.com) – Suasana berbeda terasa ketika rombongan SMA Negeri 1 Plaosan berkunjung menemui seorang veteran. Tidak ada panggung besar, tidak ada seremoni yang berlebihan. Hanya percakapan sederhana, deretan foto kenangan, dan seorang lelaki sepuh yang menyimpan potongan panjang perjalanan sejarah bangsa.
Dialah Martomo, kelahiran 1940, seorang pejuang veteran AURI. Di hadapannya, para siswa dan pendamping duduk mendengarkan kisah demi kisah. Dari percakapan itulah, sejarah yang selama ini mereka temui di buku pelajaran terasa lebih dekat dan nyata.
Kegiatan bertajuk “Sapa Veteran: Jejak Langkah, Asa, dan Cinta untuk Negeri” tersebut menjadi bagian dari upaya SMAN 1 Plaosan mengenalkan nilai-nilai perjuangan kepada generasi muda. Kegiatan itu juga membawa pesan kuat, “Untaian Terima Kasih untuk Sang Penjaga Ibu Pertiwi.”
Di tengah pertemuan, sosok Martomo menjadi pusat perhatian. Usianya yang telah lanjut tidak menghapus semangatnya ketika berbicara tentang perjalanan hidup dan pengabdiannya. Sementara di sisi lain, para siswa tampak menyimak. Sesekali mereka bertanya dan memperhatikan berbagai dokumentasi yang menghiasi ruangan.
Bagi para siswa, momen tersebut bukan sekadar kunjungan. Mereka sedang berhadapan dengan seseorang yang menjadi bagian dari generasi yang mengalami langsung perjalanan Indonesia pada masa lalu.
Di ruangan itu pula, sejumlah foto lama menjadi saksi bisu. Potret-potret yang terpajang seolah membawa pengunjung kembali ke masa berbeda—ketika pengabdian kepada negara tidak selalu hadir dalam kenyamanan seperti yang dirasakan generasi sekarang.
Sejarah yang Tak Lagi Berjarak
Pembelajaran sejarah sering kali terasa jauh ketika hanya disampaikan melalui buku, angka tahun, dan nama tokoh. Namun ketika seorang veteran duduk di hadapan siswa dan menceritakan perjalanan hidupnya, sejarah seakan memiliki suara.
Para siswa tidak hanya melihat sosok veteran sebagai seseorang yang pernah mengabdi kepada negara. Mereka juga belajar bahwa kemerdekaan dan perjalanan bangsa dibangun melalui pengorbanan, kedisiplinan, keberanian, serta kesetiaan terhadap tanah air.
Nilai itulah yang berusaha ditanamkan SMAN 1 Plaosan melalui kegiatan Sapa Veteran.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang pertemuan dua generasi. Di satu sisi ada generasi yang pernah melewati masa-masa penuh tantangan. Di sisi lain ada generasi muda yang kini memiliki tugas berbeda: menjaga, mengisi, dan melanjutkan kemerdekaan melalui pendidikan serta karya.
Bukan Sekadar Mengenang Masa Lalu
Mengunjungi veteran bukan berarti mengajak siswa hidup di masa lalu. Justru sebaliknya, pengalaman para pejuang dapat menjadi cermin untuk melihat masa depan.
Jika generasi terdahulu berjuang dengan tenaga, keberanian, dan pengabdian, maka generasi sekarang memiliki medan perjuangan yang berbeda. Belajar dengan sungguh-sungguh, berprestasi, menjaga persatuan, menghormati sesama, serta memberikan kontribusi bagi masyarakat merupakan bentuk perjuangan pada zamannya.
Karena itu, pertemuan dengan Martomo memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar agenda sekolah. Ada pesan yang ingin diwariskan: kemerdekaan tidak berhenti ketika perjuangan bersenjata berakhir. Kemerdekaan harus terus dijaga melalui sikap dan karya setiap generasi.
Bagi siswa SMAN 1 Plaosan, mungkin pertemuan itu hanya berlangsung beberapa jam. Namun cerita yang mereka dengar dan sosok yang mereka temui dapat menjadi kenangan yang jauh lebih panjang.
Sebab suatu hari nanti, ketika para siswa telah dewasa dan generasi veteran semakin sedikit, mereka akan menjadi orang-orang yang meneruskan cerita tersebut.
Dari Martomo, mereka belajar tentang jejak langkah. Dari perjuangan masa lalu, mereka menemukan asa. Dan dari pengabdian kepada negeri, mereka belajar arti cinta Indonesia. (Goes)

















