Advertisement

Magetan Bersih Tak Cukup dengan Mengangkut Sampah

MAGETAN |Lawu TV – Persoalan sampah di Magetan bukan sekadar persoalan tentang tumpukan sampah yang belum terangkut. Lebih dari itu, sampah adalah persoalan tata kelola, perilaku, kesadaran, sekaligus tanggung jawab bersama.

Selama ini, pembicaraan mengenai sampah kerap berhenti pada persoalan armada pengangkut, tempat pembuangan akhir atau keluhan ketika sampah menumpuk. Padahal, jika ingin menyelesaikan persoalan secara serius, perhatian tidak boleh hanya diarahkan ke hilir.

Sampah harus diselesaikan sejak dari hulu: dari rumah, lingkungan, hingga desa.

Di sinilah pemerintah desa memiliki peran yang sangat strategis. Peraturan Desa (Perdes) seharusnya tidak hanya menjadi aturan yang melarang masyarakat membuang sampah sembarangan. Perdes dapat menjadi dasar membangun sistem pengelolaan sampah desa secara menyeluruh.

Mulai dari kewajiban memilah sampah dari rumah, mekanisme pengumpulan dan pengangkutan, pengelolaan sampah organik dan anorganik, kelembagaan pengelola, pembiayaan, hingga pemberian sanksi dan insentif.

Desa juga memiliki ruang untuk mengembangkan bank sampah, kelompok pengelola sampah, unit usaha desa atau mengintegrasikannya dengan BUMDes sesuai potensi masing-masing.

Namun satu hal yang harus digarisbawahi: Perdes jangan sampai hanya menjadi dokumen yang tersimpan rapi di kantor desa.

Aturan akan kehilangan makna apabila tidak dijalankan.

Perdes harus menjadi kesepakatan bersama sekaligus instrumen untuk mengubah kebiasaan masyarakat. Pemerintah desa harus hadir dengan sistem yang jelas, sementara masyarakat harus memiliki kesadaran untuk menjalankannya.

Jangan Semua Beban Diletakkan di Pemerintah

Persoalan sampah tidak mungkin diselesaikan hanya oleh pemerintah daerah.

Pemerintah memang mempunyai kewajiban menyediakan regulasi, sarana, prasarana, edukasi dan pelayanan. Tetapi pada saat yang sama, masyarakat adalah pihak yang setiap hari menghasilkan sampah.

Karena itu, penyelesaian sampah harus menjadi gerakan bersama.

Pemerintah daerah, pemerintah desa, BUMDes, sekolah, pesantren, organisasi masyarakat, pemuda, kelompok perempuan, dunia usaha, pelaku UMKM, pengelola pasar, kawasan wisata dan seluruh warga harus mengambil peran sesuai kapasitasnya.

Gerakannya sebenarnya sederhana.

Pilah sampah dari rumah. Kurangi barang sekali pakai. Gunakan kembali barang yang masih layak. Olah sampah organik. Setorkan sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomi. Dan yang paling penting, jangan membuang sampah ke sungai, saluran air, jalan maupun lahan kosong.

Persoalan sampah bahkan menyimpan peluang ekonomi.

Sampah yang dipilah dengan baik dapat menjadi bahan baku kompos, kerajinan maupun bahan daur ulang. Dengan pendekatan ekonomi sirkular, sampah tidak selamanya harus dipandang sebagai beban yang harus dibuang, tetapi juga dapat menjadi sumber daya yang memiliki nilai.

Magetan Bersih Dimulai dari Rumah

Membangun Magetan yang bersih dan sehat tidak cukup hanya dengan menambah armada pengangkut sampah atau memperbesar kapasitas TPA.

Jika sampah terus diproduksi tanpa upaya pengurangan dan pemilahan dari sumbernya, maka sebesar apa pun kapasitas tempat pembuangan akan menghadapi persoalan yang sama.

Karena itu, ada sejumlah pertanyaan sederhana tetapi sangat penting:

Berapa banyak sampah yang bisa kita cegah agar tidak muncul?

Berapa banyak yang bisa digunakan kembali?

Berapa banyak yang bisa didaur ulang?

Dan berapa banyak yang benar-benar harus berakhir di TPA?

Jawaban atas pertanyaan tersebut akan menentukan masa depan pengelolaan sampah di Magetan.

Kita tidak boleh mewariskan persoalan sampah kepada generasi berikutnya. Anak-anak kita berhak mendapatkan lingkungan yang bersih, sehat dan layak dihuni.

Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Masyarakat juga tidak bisa menuntut lingkungan bersih tanpa mengubah perilaku dari sumbernya.

Magetan bersih bukan dimulai dari TPA. Magetan bersih dimulai dari rumah kita masing-masing.

Dari satu rumah menjadi satu RT.

Dari satu RT menjadi satu dusun.

Dari satu dusun menjadi satu desa.

Dan dari desa-desa yang peduli, lahirlah Magetan yang bersih, sehat dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, sampah adalah persoalan kita bersama. Maka penyelesaiannya pun harus dilakukan bersama.

Bukan hanya siapa yang mengangkut sampah.

Tetapi juga siapa yang menghasilkan, siapa yang memilah, siapa yang mengelola, dan siapa yang bertanggung jawab.

Sebab lingkungan yang bersih bukan hadiah dari pemerintah.

Lingkungan yang bersih adalah hasil dari kesadaran kita semua.

Penulis : Budi Siswanto

About The Author